WERU,- Langkah SSB Garuda Jaya merah di Liga Jabar 2026 KU 12 terhenti di perempat final. Tim besutan Tisna Mercedes dan Bangke Seporete kalah tipis 2-1 atas Fajar Saputra, di lapangan sepakbola desa megu cilik kec weru, Minggu (26/4/2026).
Keunggulan Fajar Saputra diraih di menit akhir babak kedua melalui tendangan penalti yang dinilai kontroversi. Wasit Karisa memberikan hadiah penalti kepada Fajar Saputra yang menurutnya telah terjadi pelanggaran di area kotak penalti.
Padahal menurut orang tua pemaij yang menyaksikan pertandingan secara langsung, posisi bola sudah keluar garis serta tidak ada dorongan maupun tarikan tangan dari pemain Garuda Jaya terhadap pemain Fajar Saputra.
Kritikan terhadap kepemimpinan wasit Karisa tak berhenti sampai di situ. Sebelum “insiden penalti” beberapa keputusan wasit merugikan Garuda Jaya.
Orang tua pemain Garuda Jaya, Syaiful Anwar, menyampaikan bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan hasil akhir pertandingan. Namun, ia menyoroti sejumlah keputusan wasit yang dinilai merugikan tim Garuda Jaya.
“Kami tidak mempersoalkan kalah atau menang. Tapi kami melihat ada ketidakadilan dalam kepemimpinan wasit. Penalti tadi itu menurut saya harusnya tidak terjadi. Karena bola sudah out dan tidak ada dorongan maupun tarikan pemain Garuda Jaya kepada pemain Fajar Saputra. Jatuh sendiri. Kemudian beberapa pelanggaran yang seharusnya diberikan kepada lawan justru dibiarkan, sementara tim kami sering dihukum,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan kesan adanya ketidakadilan selama pertandingan berlangsung. Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya sempat melayangkan protes kepada wasit, namun tidak mendapatkan respons.
“Kami merasa seperti dicurangi, kami ingin penyelenggara lebih serius dalam menyiapkan perangkat pertandingan termasuk seleksi wasit dan, jika perlu, menambah hakim garis meski di lapangan kecil,” tegasnya.
Syaiful juga menekankan pentingnya menjaga nilai sportivitas dalam kompetisi usia dini agar tidak mengganggu proses pembinaan pemain muda.
“Ini ajang pembinaan. Jangan sampai ada kepentingan lain yang justru merusak proses tumbuh kembang anak-anak di sepak bola,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Firman yang dikonfirmasi di lapangan menanggapi bahwa tudingan kecurangan tersebut merupakan asumsi sepihak.
“Itu hanya asumsi dari salah satu pihak. Dari perangkat pertandingan, baik wasit maupun pengawas, semua mengacu pada laws of the game serta manual pertandingan yang telah disepakati saat technical meeting,” jelasnya.
Ia memastikan bahwa wasit telah bertugas secara profesional tanpa keberpihakan dan tetap berpegang pada aturan yang berlaku.
“Wasit bekerja secara netral, tegak lurus mengikuti peraturan, dan menjunjung tinggi prinsip fair play,” tambahnya.
Di sisi lain, seorang warga yang turut menyaksikan pertandingan, Wahab, mengaku melihat adanya dugaan ketidakadilan dalam kepemimpinan wasit pada laga tersebut.
“Dari yang saya lihat, ada beberapa keputusan wasit yang terasa kurang adil. Beberapa pelanggaran terlihat jelas, tapi tidak ditindak. Ini membuat jalannya pertandingan jadi kurang enak ditonton,” ujar Wahab.***

Tinggalkan Balasan