Tapanuli Tengah, – Suasana haru menyelimuti Dusun Hutaraja saat dua relawan Mapalangit Biru STID Al Biruni Cirebon, Salman “Nesting” dan Mudaris “Hendel”, resmi mengakhiri tugas kemanusiaan mereka. Keduanya selama ini tergabung dalam Satgas Kebencanaan Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya (FK-KBPA-BR) dan telah mendampingi warga sejak Desember 2025.

Selama berbulan-bulan, Salman dan Mudaris menjadi bagian penting dalam proses pemulihan masyarakat pascabencana di desa yang sebelumnya sempat terisolasi tersebut. Kehadiran mereka tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga menguatkan mental dan semangat warga yang kini mulai bangkit dan menata kembali kehidupan.

Acara perpisahan digelar sederhana namun penuh makna pada Jumat malam (25/4/2026) di Desa Sait Kalangan II, Kecamatan Tukka. Bersama anggota Pos Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) HUNTAR dan 43 keluarga penyintas, momen tersebut diisi dengan makan bersama, berbagi cerita, serta canda yang menghangatkan suasana sekaligus menjadi penutup kebersamaan yang telah terjalin.

Sebagai tanda penghargaan dan rasa terima kasih, masyarakat memberikan kain ulos kepada kedua relawan. Ulos yang ditenun dengan penuh ketulusan itu menjadi simbol kasih sayang, doa, dan pengikat hubungan yang tidak lekang oleh waktu.

Ketua PMPB HUNTAR, Jonter Simatupang, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih sekaligus pesan mendalam.

“Tetap jaga kesehatan, semoga selamat sampai tujuan. Perpisahan ini bukan akhir, kita tetap satu keluarga. Komunikasi dan silaturahmi harus terus terjaga. Aku tulang-mu, kalian bere-ku. HORAS!” ucapnya.

Sementara itu, Achil dari GPA Bandung sebagai relawan senior turut menyampaikan pesan singkat agar kedua relawan selalu menjaga kesehatan dan keselamatan selama perjalanan kembali.

Pelepasan ini menjadi penanda berakhirnya tugas, namun bukan akhir dari hubungan yang telah terbangun. Di tengah keterbatasan dan cobaan, nilai kebersamaan dan solidaritas justru tumbuh kuat, meninggalkan cerita kemanusiaan yang akan terus dikenang oleh warga Hutaraja dan para relawan.***