Oleh: Dr. Habib khaerussani

(Penulis pengasuh ponpes akmala sabila)

Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, institusi pesantren dituntut untuk tidak sekadar menjadi benteng moral, melainkan juga pusat peradaban yang kompetitif. Di garda terdepan transformasi ini, muncul satu nama yang konsisten mendobrak sekat-sekat tradisi tanpa kehilangan akar spiritualitasnya: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A.

Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, ini bukan sekadar seorang ulama, ia adalah seorang arsitek masa depan, pelopor kemajuan Nahdlatul Ulama (NU), dan sosok kiai inspiratif yang pemikiran-pemikirannya kerap melompat melampaui zamannya.

Mendobrak Sekat Tradisional: Visi Pesantren Modern Ketika banyak pihak masih memperdebatkan bagaimana cara menyeimbangkan pendidikan salaf (klasik) dan modern, Kiai Imam Jazuli justru sudah melangkah jauh ke depan. Melalui Bina Insan Mulia, beliau menawarkan antitesis dari kesan pesantren yang kumuh atau tertinggal.

Beliau merancang pesantren dengan kurikulum internasional, fasilitas modern, dan orientasi global. Di bawah arahannya, para santri tidak hanya lihai membaca kitab kuning, tetapi juga fasih berbahasa internasional, menguasai sains, serta siap menembus universitas-universitas top di Timur Tengah, Eropa, hingga Australia.

Beliau membuktikan bahwa menjadi wong NU tidak berarti harus gagap teknologi atau minder di kancah global.

Katalisator Kebangkitan NU: Mengembalikan Khittah dan Kekuatan Politik. Sebagai kader tulen, kecintaan Kiai Imam Jazuli terhadap Nahdlatul Ulama tidak perlu diragukan. Namun, kecintaan itu tidak diwujudkan dalam bentuk romantisasi masa lalu, melainkan lewat otokritik yang konstruktif dan langkah taktis yang berani.

Beliau dikenal sebagai pemikir yang vokal dalam menyuarakan kebangkitan NU di berbagai sektor:

Kemandirian Ekonomi: Beliau terus mendorong agar NU tidak hanya besar secara kuantitas (jumlah jamaah), tetapi juga kuat secara kualitas ekonomi. Santri harus menjadi produsen, bukan sekadar konsumen.

Keberanian Sikap Politik: Kiai Imam Jazuli secara konsisten mengingatkan warga nahdliyin untuk sadar geopolitik dan melek kekuasaan.

Baginya, politik adalah sarana menjaga agama (hirasatuddien) dan mengelola dunia (siyasatuddunya). Pemikiran beliau yang tegas sering kali menjadi pemantik diskusi hangat di kalangan elite maupun akar rumput NU.

Mengapa Beliau Menjadi Sosok Kyai Inspiratif? “Seorang pemimpin tidak mencari pengikut, ia mencetak pemimpin-pemimpin baru.”

Prinsip itulah yang terpancar dari sosok Kiai Imam Jazuli. Beliau adalah representasi ideal kiai abad ke-21. Karismanya tidak dibangun dari jarak yang kaku dengan santri, melainkan dari kedekatan gagasan, keterbukaan pikiran, dan keberanian mengambil risiko.

Beliau mengajarkan bahwa tawadhu dan takzim kepada guru tidak boleh mematikan daya kritis. Di era di mana disrupsi terjadi di segala lini, Kiai Imam Jazuli adalah jawaban bahwa NU dan dunia pesantren memiliki motor penggerak yang siap membawa gerbong besar ini menuju kejayaan baru.

Redaksi Menyimpulkan: Menatap masa depan NU dan Indonesia, kita membutuhkan lebih banyak figur seperti KH. Imam Jazuli. Sosok yang menancapkan kakinya kuat-kuat pada tradisi luhur Ahlussunnah wal Jama’ah, namun kepalanya tegak menantang masa depan, membawa santri dan warga nahdliyin melangkah pasti menuju panggung peradaban dunia. Beliau adalah lentera kemajuan yang sinarnya patut kita jaga bersama.***