CIREBON – Deru mesin kapal terdengar bersahutan sejak pagi di kawasan Pelabuhan Cirebon. Truk-truk bertonase besar hilir mudik keluar masuk area dermaga, sementara pekerja bongkar muat bergerak cepat di tengah hiruk pikuk aktivitas pelabuhan yang nyaris tak pernah berhenti.
Di salah satu sisi dermaga, dua kapal pengangkut garam impor asal Australia tampak bersandar. Gunungan garam putih dibongkar menggunakan alat berat sebelum dipindahkan ke truk-truk pengangkut menuju pabrik pengolahan di wilayah Cirebon. Total muatan dari dua kapal tersebut mencapai hampir 15 ribu ton.
Tak jauh dari lokasi itu, aktivitas bongkar jagung dari kapal asal Dompu, Nusa Tenggara Barat, juga berlangsung sibuk. Puluhan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) terlihat keluar masuk palka kapal.
Beberapa pekerja bahkan harus berjalan kaki di dalam lambung kapal karena derek kapal yang sudah tua tidak mampu mengangkat muatan secara maksimal.
“Kalau kapal jagung itu rata-rata kapal lama. Derek depannya sudah lemah, jadi masih banyak pakai tenaga manusia. Mereka menyekop jagung ke jalan kecil di dalam kapal sebelum diangkat ke hopper,” ujar Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Cirebon, Hari Priyatna, Kamis (21/5/2026)
Menurut Hari, Pelabuhan Cirebon saat ini menjadi salah satu gerbang logistik utama untuk wilayah Jawa Barat bagian timur hingga sebagian Jawa Tengah. Berbagai komoditas dari Kalimantan dan Sumatera masuk melalui pelabuhan tersebut sebelum didistribusikan ke daerah industri seperti Bandung, Karawang, Purwakarta, Tegal hingga Ajibarang.
“Pelabuhan Cirebon ini ibarat pintu masuk kebutuhan industri. Batu bara untuk pabrik semen dan tekstil, karet untuk industri di Bandung, sampai jagung untuk pakan ternak banyak bongkarnya di sini,” katanya.
PTP Nonpetikemas Cabang Cirebon sendiri menangani beragam komoditas curah kering seperti batu bara, pasir, clinker, semen dan gypsum. Sementara curah cair meliputi CPO, minyak sawit, biosolar hingga aspal. Untuk general cargo, pelabuhan ini juga melayani bongkar muat alat berat, project cargo dan pipa.
Meski aktivitas bongkar muat berlangsung padat, pengelola pelabuhan mengklaim tetap mengedepankan pengendalian lingkungan, terutama untuk komoditas batu bara yang selama ini kerap menjadi sorotan masyarakat.
Di area bongkar batu bara, sejumlah nozzle spray mist tampak aktif menyemprotkan kabut air untuk menekan debu. Truk pengangkut juga diwajibkan langsung ditutup terpal setelah muatan masuk. Bahkan sebelum keluar pelabuhan, kendaraan harus melewati proses pembilasan agar tidak membawa residu batu bara ke jalan raya.
Selain itu, pada sisi pelabuhan yang berbatasan langsung dengan permukiman warga, dipasang jaring pelindung setinggi 12 meter lengkap dengan semprotan air otomatis untuk menangkap partikel debu.
“Kami memastikan aktivitas bongkar muat tetap terkendali dan tidak mengganggu masyarakat sekitar. Pengendalian debu menjadi perhatian utama,” tegas Hari.
Hingga Oktober 2025, PTP Nonpetikemas Cabang Cirebon mencatat throughput mencapai 3,8 juta ton atau tumbuh sekitar tujuh persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,9 juta ton.
Peningkatan tersebut didorong tingginya aktivitas bongkar muat komoditas curah kering seperti batu bara, jagung, tanah liat, pasir hingga pasir kuarsa.
Produktivitas operasional bongkar muat juga tercatat melampaui target perusahaan. Kinerja Ton per Ship per Day (T/S/D) mencapai 2.705,93 atau lebih tinggi sekitar 8,85 persen dari target yang ditetapkan.
Di tengah suara sirene kapal, debu yang beterbangan, dan antrean truk yang tak putus, Pelabuhan Cirebon terus bergerak menjadi simpul logistik penting di Pantura Jawa, menjaga pasokan industri tetap hidup dari pesisir utara Cirebon.