Soroti Isu Hoaks hingga Elektabilitas PAN, Pengamat: Pelaporan Hukum Bisa Jadi Bumerang
Cirebonupdate.id- Pengamat politik Heru Subagia menyoroti polemik yang tengah melanda Partai Amanat Nasional (PAN), khususnya terkait isu dugaan penyebaran hoaks yang menyeret nama Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan. Ia menilai, respons berupa pelaporan hukum terhadap pihak yang dianggap menyebarkan informasi negatif justru berpotensi memunculkan persepsi publik yang kontraproduktif.
Menurut Heru, derasnya arus informasi yang beredar di ruang publik saat ini tidak bisa dilepaskan dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap figur maupun institusi politik. Ia menyebut, cepatnya penyebaran isu yang dikategorikan sebagai hoaks menjadi indikator penting lemahnya filter sosial di tengah masyarakat.
“Jika kepemimpinan dan kinerja benar-benar kuat serta dirasakan langsung oleh publik, maka masyarakat cenderung lebih selektif. Mereka tidak mudah percaya, apalagi ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujar Heru.
Ia juga menyoroti bagaimana posisi strategis PAN, terutama dalam sektor pangan yang berkaitan dengan program-program pemerintahan Prabowo Subianto, seharusnya mampu memperkuat citra positif partai di mata publik. Namun, situasi yang terjadi justru sebaliknya, di mana isu negatif berkembang cepat dan sulit dikendalikan.
Lebih lanjut, Heru mengkritik langkah pelaporan terhadap penyebar hoaks yang dinilai berpotensi menimbulkan spekulasi baru. Ia menilai pendekatan hukum dalam konteks ini bisa menimbulkan kesan bahwa PAN anti kritik dan menjauh dari semangat reformasi.
“Langkah hukum memang sah, tetapi dalam konteks politik, ini bisa ditafsirkan publik sebagai upaya membungkam kritik. Jika tidak hati-hati, justru merusak citra partai sebagai kekuatan reformis,” tegasnya.
Selain itu, ia menyinggung lemahnya strategi komunikasi politik internal partai. Heru menilai, kondisi ini mencerminkan kurang optimalnya fungsi mitigasi isu, termasuk dalam mendeteksi, mengelola, hingga merespons serangan informasi di ruang publik.
Ia bahkan menyebut, situasi tersebut menunjukkan sikap reaktif yang berlebihan, alih-alih strategi komunikasi yang terukur dan progresif. “Ini terlihat seperti kepanikan komunikasi. Harusnya ada strategi ofensif dan defensif yang seimbang, bukan sekadar respons spontan,” katanya.
Di sisi lain, Heru mengaitkan fenomena ini dengan capaian elektabilitas PAN yang disebutnya berada di angka rendah berdasarkan survei terbaru. Ia menilai, persepsi publik yang terbentuk dari derasnya isu negatif turut memengaruhi tingkat kepercayaan terhadap partai.
“Elektabilitas yang rendah bukan muncul tiba-tiba. Itu akumulasi dari persepsi publik terhadap kinerja, komunikasi, dan bagaimana partai merespons kritik,” jelasnya.
Heru pun menekankan bahwa di era digital saat ini, pertarungan politik tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di ruang informasi. Ia menyebut, kemampuan mengelola opini publik menjadi kunci utama dalam menjaga citra dan kepercayaan masyarakat.
“Ini bukan sekadar soal benar atau salah, tapi soal bagaimana narasi dibangun, dikelola, dan dipertahankan. Di situlah sebenarnya pertarungan politik modern berlangsung,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan