CIREBON,- Ribuan titik cahaya menyala dari obor-obor yang digenggam warga, membentuk lautan api kecil yang bergerak perlahan menuju Situs Ki Gede Surang, yang berada di desa Bakung, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Anak-anak berjalan di samping orang tua mereka. Para pemuda mengawal barisan.
Cahaya obor yang menembus gelap malam seakan menjadi simbol perjalanan manusia itu sendiri. Sebuah perjalanan yang selalu bergerak di antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Sesepuh desa melangkah tenang di tengah masyarakat yang larut dalam suasana khidmat. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada perbedaan kedudukan. Semua menyatu dalam satu perjalanan yang sama.
Bagi masyarakat Bakung, pawai obor malam 1 Suro bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah perjalanan kembali kepada akar sejarah, kepada jejak para leluhur yang telah meletakkan fondasi kehidupan masyarakat hingga hari ini.
Ketua Komisi II DPRD Jawa Barat sekaligus tokoh pemuda Desa Bakung Kidul, Bambang Mujiarto ST, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa tradisi dan kemajuan zaman tidak seharusnya dipertentangkan. Menurutnya, masyarakat harus mampu menempatkan sejarah sebagai akar kehidupan, sementara masa depan menjadi tujuan yang ingin dicapai bersama.
“Perjalanan masa lalu adalah kompas bagi masa sekarang. Apa yang diwariskan leluhur menjadi pondasi yang membuat kita memahami arah pembangunan hari ini. Kita melihat kembali sejarah sebagai akar, dan melihat masa depan sebagai tujuan,” ujar Bambang, Selasa (16/6/2026).
Bambang juga menjelaskan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab yang sama, yaitu menjaga warisan budaya sekaligus mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Dalam pandangannya, malam 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Jawa maupun kalender Hijriah.
“Lebih dari itu, malam tersebut merupakan momentum perenungan tentang perjalanan hidup manusia. Suatu saat akan menjadi masa lalu, besok akan menjadi hari ini,” katanya.
Bambang juga mengatakan, apa yang dilakukan manusia saat ini akan menjadi sejarah yang kelak dikenang oleh anak cucu. Karena itu apa yang kita lakukan hari ini harus memiliki makna. Sebab sejarah tidak hanya mengukir masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa depan.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, Bambang menilai budaya dan tradisi tetap memiliki posisi yang sangat penting. Kemajuan teknologi memang tidak mungkin dihindari. Perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan. Namun budaya dan tradisi menjadi penyeimbang agar manusia tidak kehilangan jati dirinya.
“Manusia dikenal karena budaya dan tradisinya. Dari sanalah lahir karakter, nilai, dan identitas. Teknologi boleh berkembang, dunia boleh berubah, tetapi budaya menjadi ruh yang menjaga kemanusiaan kita,” tuturnya.
Bagi Bambang, salah satu pekerjaan besar yang harus dilakukan masyarakat hari ini adalah meluruskan berbagai cara pandang yang dapat memecah belah persaudaraan. Ia menegaskan bahwa syiar Islam sejatinya hadir untuk menghadirkan kedamaian, kasih sayang, dan kemaslahatan umat, bukan untuk melahirkan konflik dan permusuhan.
“Islam tidak mengajarkan saling membunuh. Islam mengajarkan persaudaraan, kemanusiaan, dan kasih sayang. Karena itu kita harus terus menjaga ruang-ruang kebersamaan yang menjadi kekuatan masyarakat Cirebon,” ujarnya.
Dalam konteks budaya Cirebon, Bambang melihat bahwa keberagaman pandangan, tradisi, dan ekspresi budaya merupakan kekayaan yang harus dirawat. Perbedaan yang ada bukan alasan untuk berpecah, melainkan menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.
“Kita boleh memiliki pandangan budaya yang berbeda, cara yang berbeda, bahkan pemahaman yang berbeda. Tetapi semuanya masih berada dalam kerangka besar Cirebon. Kita tetap satu keluarga besar yang memiliki tujuan yang sama, yaitu mewujudkan masa depan yang lebih baik,” katanya.
Menurut Bambang, peringatan Tahun Baru Islam dan malam 1 Suro harus dipahami sebagai momentum untuk menyatukan kembali semangat kebersamaan masyarakat.
Bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai spiritual yang diwariskan para leluhur. Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga mengingatkan kembali pesan besar yang diwariskan oleh leluhur Cirebon, khususnya Sunan Gunung Jati.
“Salah satu ajaran yang terus hidup hingga hari ini adalah pesan “Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin.”
Menurutnya, pesan tersebut sering kali hanya dipahami secara sederhana sebagai perintah menjaga tempat ibadah dan membantu masyarakat miskin. Padahal maknanya jauh lebih luas.
“Tajug bukan hanya bangunan fisik tempat beribadah. Tajug adalah simbol nilai, moralitas, pendidikan, dan ruang persatuan masyarakat,” jelasnya.
Sementara fakir miskin bukan sekadar kelompok yang membutuhkan bantuan ekonomi, melainkan simbol kepedulian sosial dan kemanusiaan.
“Pesan leluhur bukan hanya soal membangun masjid. Tetapi bagaimana nilai-nilai yang ada di dalamnya mampu menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat. Dan bagaimana kepedulian terhadap sesama menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari,” tandasnya.
Karena itu Bambang menilai bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya pembangunan fisik. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran sosial, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan keadilan bagi seluruh masyarakat.
Menurutnya, persoalan kemiskinan, ketimpangan sosial, dan masalah kemanusiaan tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah saja. Diperlukan kerja sama antara rakyat, tokoh masyarakat, pemuda, ulama, dan seluruh elemen bangsa.
“Kepedulian sosial adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran, tetapi masyarakat juga memiliki peran yang sama pentingnya. Ketika keduanya berjalan bersama, persoalan besar akan lebih mudah diselesaikan,” tutupnya.***

Tinggalkan Balasan