Oleh: Dr. Habib khaerussani
(Penulis adalah pengasuh ponpes akmala sabila)
Di tengah derasnya arus modernisasi dan dinamika sosial-politik yang kian kompleks, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membutuhkan sosok nakhoda yang tidak hanya cakap secara struktural, tetapi juga mengakar kuat secara kultural. Narasi tentang harapan KH. Imam Jazuli, Lc., M.A. untuk memimpin PBNU adalah cerminan dari kerinduan mendalam warga NU akar rumput (grassroots) akan hadirnya pemimpin yang responsif, berani, dan adaptif.
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bina insan Mulia Cirebon, KH. Imam Jazuli bukan sekadar tokoh menara gading. Beliau adalah representasi dari “NU Kultural” yang sesungguhnya meresapi denyut nadi para santri, kiai-kiai kampung, dan masyarakat bawah yang selama ini menjadi fondasi kekuatan Nahdliyin.
Mengapa Sosoknya Dinantikan oleh Arus Kultural?
Ada beberapa alasan mendasar mengapa nama KH. Imam Jazuli mencuat sebagai figur yang begitu dinantikan untuk membawa perubahan di tubuh PBNU.
Jembatan Tradisi dan Modernitas
Beliau adalah alumnus Timur Tengah (Universitas Al-Azhar, Kairo) yang kokoh dalam khazanah kitab kuning, namun di saat yang sama memiliki pemikiran yang sangat progresif dan melek media. Karakter ini sangat dibutuhkan untuk merangkul generasi Z dan Milenial NU yang membutuhkan bimbingan agama tanpa kehilangan relevansi zaman.
Keberanian dalam Bersikap
Kiai Imam Jazuli dikenal dengan gagasannya yang segar, berani, dan kadang mendobrak kebiasaan lama (inkonvensional). Di era digital di mana narasi keagamaan sering dikuasai kelompok radikal, NU membutuhkan pemimpin yang agresif, cerdas, dan tidak ragu mengambil posisi tegas untuk melindungi warga kulturalnya dari infiltrasi ideologi luar.
Mandiri secara Ekonomi dan Pemikiran
Kemandirian pesantren yang beliau bangun menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan organisasi modern harus berbasis pada pemberdayaan ekonomi umat. Harapan agar beliau memimpin PBNU adalah harapan agar NU tumbuh menjadi organisasi yang mandiri secara finansial, sehingga keputusannya tidak mudah diintervensi oleh kepentingan politik praktis jangka pendek.
“NU Kultural adalah jiwa dari organisasi ini. Jika strukturnya menjauh dari kulturnya, maka NU akan kehilangan ruhnya. Pemimpin masa depan PBNU haruslah mereka yang mau mendengarkan keluh kesah kiai-kiai di pelosok desa, bukan hanya mereka yang sibuk di panggung formalitas.”
Menatap PBNU di Bawah Harapan Baru
Jika amanah memimpin PBNU kelak berada di pundak KH. Imam Jazuli, arah baru yang dinantikan adalah terjadinya rekonstruksi hubungan antara elite struktur PBNU dengan basis kulturalnya. Tidak ada lagi jarak antara pusat dan daerah. Program-program PBNU diprediksi akan lebih membumi digitalisasi pesantren secara masif, penguatan ekonomi warga Nahdliyin lewat jaringan UMKM, serta diplomasi internasional yang membawa karakter Islam Nusantara yang ramah ke panggung dunia.
Harapan ini bukan sekadar tentang suksesi kepemimpinan, melainkan sebuah gerakan moral. Gerakan untuk mengembalikan PBNU sebagai pelindung, pelayan, dan pemandu bagi jutaan warga kultural yang rindu akan sosok pemimpin yang hangat, tegas, dan selalu hadir di tengah-tengah mereka. KH. Imam Jazuli adalah jawaban dari doa-doa sunyi di surau dan pesantren yang merindukan kejayaan NU yang mandiri dan berwibawa.***

Tinggalkan Balasan