CIREBON,- iklim investasi di Kabupaten Cirebon pada tahun 2026 ini meningkat, pengamatan ekonomi R Sandi Wiranata justru mempertanyakan soal kesejahteraan masyarakatnya. Pasalnya tingginya investasi di Kabupaten Cirebon hingga saat ini masih belum mendongkrak Kesejahteraan masyarakat.
“Fenomena ini memang sering disebut sebagai Paradoks Pertumbuhan atau “Ironi Investasi.” Kabupaten Cirebon sering kali mencatatkan realisasi investasi yang sangat impresif di Jawa Barat, namun angka kemiskinan dan kesejahteraan masyarakatnya masih menjadi tantangan besar,” ujarnya kepada awak media, Kamis (14/5/2026).
Sandi juga mengatakan, ada beberapa faktor struktural dan ekonomi yang menjelaskan mengapa ‘kucuran dana’ besar dari investor tidak langsung otomatis menyejahterakan warga lokal. Karakteristik Investasi yang Padat Modal, Bukan Padat Karya.
“Banyak investasi besar yang masuk ke Cirebon bergerak di sektor industri manufaktur yang menggunakan teknologi tinggi atau otomatisasi Dampaknya, perusahaan-perusahaan ini membutuhkan tenaga kerja dengan skill spesifik yang sering kali tidak dimiliki oleh masyarakat lokal di tingkat akar rumput,” jelasnya.
Akibatnya, menurut Sandi posisi strategis diisi oleh pekerja dari luar daerah, sementara warga lokal hanya terserap di sektor pendukung dengan upah minimum. Dengan kata lain, kesenjangan Kompetensi Tenaga Kerja (Skill Mismatch).
“Meskipun investasi masuk, ada jurang antara kualitas pendidikan lokal dengan standar industri. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah Cirebon masih harus bersaing ketat dengan daerah industri lain di Jabar,” katanya.
Sandi juga mengatakan, tanpa sertifikasi atau keahlian teknis yang memadai, masyarakat lokal sulit untuk mendapatkan manfaat langsung dari industrialisasi. Tingginya Angka Pengangguran Terbuka
Data BPS sering menunjukkan bahwa meski investasi naik, angka pengangguran di Kabupaten Cirebon masih termasuk salah satu yang tertinggi di Jawa Barat.
“Hal ini disebabkan oleh laju angkatan kerja baru yang tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja. Sektor pertanian yang semakin tergerus oleh alih fungsi lahan menjadi kawasan industri, sehingga petani kehilangan mata pencaharian tanpa memiliki transisi keahlian ke sektor industri,” jelasnya.
Sandi juga menambahkan, investasi adalah mesin pertumbuhan, tetapi bukan satu-satunya alat kesejahteraan. Tanpa adanya kebijakan link and match yang kuat antara sekolah kejuruan (SMK) dengan industri, serta perlindungan bagi sektor UMKM lokal agar bisa menjadi rantai pasok perusahaan besar, investasi tersebut hanya akan menjadi ‘angka di atas kertas’ bagi masyarakat kecil.***

Tinggalkan Balasan