
KABUPATEN CIREBON, CU- Di tengah hamparan sawah Desa Sirnabaya, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, sebuah tradisi tua terus dijaga lintas generasi.
Tradisi yang lahir dari keyakinan, doa, dan rasa hormat manusia kepada alam serta Sang Pencipta.
Saat musim penghujan mulai tiba, warga Desa Sirnabaya bersiap menyambut datangnya musim tanam padi.
Namun bagi mereka, menanam padi bukan sekadar urusan bercocok tanam, melainkan sebuah laku spiritual yang sarat makna.
Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus simbol tolak bala dari segala bencana dan mara bahaya, masyarakat Desa Sirnabaya melaksanakan tradisi menanam kepala kerbau jantan.

Sebuah ritual adat yang dipercaya mampu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan tak kasat mata.
Prosesi diawali di balai panjang desa.
Para pamong desa, tokoh adat, dan masyarakat berkumpul dalam hening.
Doa-doa dipanjatkan, sesaji ditata dengan penuh kehati-hatian—bunga tujuh rupa, hasil bumi, serta kepala kerbau jantan yang terbungkus kain putih, simbol kesucian dan keikhlasan.
Dalam doa yang lirih, terucap harapan panjang warga Desa Sirnabaya:
keselamatan, kelancaran musim tanam, kesehatan, serta dijauhkan dari pagebluk, hama, dan bencana alam.
Usai doa dipanjatkan, prosesi pun berlanjut.
Sejumlah warga berjalan kaki sejauh kurang lebih satu kilometer, menyusuri pematang sawah menuju lokasi penanaman.
Di pundak mereka, sesaji dan kepala kerbau dibawa dengan penuh kehormatan.
Yang paling unik dan sarat makna, para pria pembawa kepala kerbau hanya mengenakan sehelai kain putih yang menutupi bagian vital.
Busana sederhana itu melambangkan kesucian niat, kerendahan diri, dan kembalinya manusia pada asal mula kehidupan—tanpa kesombongan, tanpa kepentingan duniawi.
Kepala kerbau kemudian ditanam di lahan pertanian atau sawah bengkok milik Pemerintah Desa Sirnabaya.
Bagi warga, kerbau adalah simbol kekuatan, pengorbanan, dan penjaga sawah—sahabat petani sejak zaman leluhur.
Kuwu Sirnabaya, Rawin, menuturkan bahwa tradisi ini bukan bentuk pemujaan, melainkan warisan budaya yang sarat filosofi kehidupan masyarakat Cirebon.
Sebuah cara leluhur mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam dan senantiasa berserah diri kepada Tuhan.
Dalam khazanah budaya Cirebon, ritual ini mencerminkan nilai memayu hayuning bawana—menjaga keharmonisan dunia.
Perpaduan antara ajaran spiritual Islam, tradisi agraris, dan kearifan lokal yang tumbuh sejak masa para wali.
Di tengah arus modernisasi, tradisi menanam kepala kerbau jantan di Desa Sirnabaya tetap lestari.
Menjadi penanda bahwa budaya bukan sekadar masa lalu, melainkan identitas yang hidup, berdenyut, dan terus diwariskan.
Dari tanah Sirnabaya, doa ditanam bersama kepala kerbau.
Agar padi tumbuh subur, alam bersahabat, dan kehidupan warga senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.( Riant Subekti)

Tinggalkan Balasan