TANGGERANG – Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menegaskan bahwa kekayaan sejarah Cirebon harus ditransformasikan menjadi kemajuan konkret, bukan sekadar narasi masa lalu. Hal ini disampaikannya dalam forum silaturahmi “Menyatukan Langkah dan Menguatkan Cirebon” di The Radiant Center, Tangerang Selatan, Jumat (19/12/2025).
Effendi menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk merealisasikan visi pembangunan 2025-2029. Ia berharap pengembangan wisata terintegrasi mampu menjadi motor ekonomi tanpa mengikis akar tradisi.
”Cirebon kaya akan sejarah, namun tanpa aksi nyata, potensi itu akan percuma. Kita harus mulai melangkah bersama untuk Cirebon yang lebih maju,” tegas Effendi di hadapan para tokoh masyarakat dan kepala daerah.
Strategi Pariwisata 2026-2029: “Living Heritage”
Mendukung visi tersebut, Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, memaparkan peta jalan pariwisata bertajuk “Setara dan Berkelanjutan”. Fokus utamanya adalah menghidupkan kembali roh Living Heritage di kawasan keraton serta membenahi tata kelola wisata secara profesional.
Pemerintah Kota telah menetapkan beberapa kawasan prioritas pengembangan:
Wisata Keraton: Revitalisasi Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan.
Wisata Bahari & Kota Lama: Pengembangan area Kejawanan dan revitalisasi bangunan bersejarah.
Penguatan Wilayah: Penataan ekonomi pesisir di Lemahwungkuk, pusat kuliner di Pekalipan, hingga urban farming di Harjamukti.
Integrasi Global dan Ekonomi Biru
Melalui optimalisasi kawasan Metropolitan Rebana dan konsep blue economy, Kota Cirebon optimis bertransformasi menjadi pusat jasa dan perdagangan berbasis warisan budaya. Pemerintah juga mengajak seluruh pihak menyukseskan Calendar of Event nasional sebagai upaya menarik wisatawan mancanegara.
”Kita membangun ekosistem yang tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga hidup secara nilai,” pungkas Agus.( Riant Subekti)

Tinggalkan Balasan