
KABUPATEN CIREBON – Di Desa Kali Sapu, waktu seolah berjalan melambat saat fajar menyapa. Bukan deru mesin yang terdengar, melainkan langkah kaki serempak ratusan warga yang membawa napas syukur dalam rupa hasil bumi. Hari itu, tradisi bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah ikatan batin yang kembali dikencangkan melalui ritual Ngunjung Adat Sedekah Bumi.

Perjalanan Sunyi Menuju Muara Doa
Mengenakan pakaian terbaik mereka—koko putih yang bersahaja dan kerudung yang anggun—warga berjalan beriringan. Jarak empat kilometer menuju Makbaroh Sunan Gunung Jati tidak dirasakan sebagai beban fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual. Di Pintu Pasujudan, suasana mendadak magis. Wangi hio dan kemenyan tipis berpadu dengan lantunan tahlil yang bergema rendah, menciptakan harmoni yang menggetarkan jiwa.
Bagi masyarakat Kali Sapu, berhenti di pintu ini adalah bentuk “salam takzim” kepada Sang Wali, Syarif Hidayatullah, sebelum mereka melangkah lebih jauh menuju akar silsilah desa mereka sendiri.
Menyambung Sanad kepada Sang Pembabat Alas
Langkah warga kemudian mendaki menuju kesunyian Gunung Sembung. Di sanalah bersemayam Ki Gede Kali Sapu (Jaka Kumara) dan Ki Gede Jati. Ziarah ini adalah cara warga Desa Kali Sapu “melapor” kepada leluhur bahwa tanah yang mereka tinggali masih dijaga dengan baik.
”Kami tidak ingin menjadi generasi yang tercerabut dari akarnya,” ujar Suhana, Kuwu Desa Kali Sapu. Matanya menatap barisan warga yang khusyuk berdoa. Beliau menambahkan bahwa ziarah ke makam Syekh Bayanillah juga menjadi bagian tak terpisahkan, melengkapi kepingan sejarah yang membentuk identitas desa tersebut hingga hari ini.
Sedekah Bumi: Dari Besek hingga Bayang-bayang Wayang
Ritual tidak berhenti di pemakaman. Di aula balai desa, semangat berbagi memuncak. Doa bersama dipanjatkan sebagai penutup rangkaian spiritual, diikuti dengan pembagian besek—bingkisan yang menjadi simbol bahwa rezeki adalah milik bersama.
Malamnya, suasana desa berubah menjadi panggung refleksi. Pagelaran wayang kulit digelar, bukan semata sebagai hiburan, melainkan sebagai media dakwah visual yang diwariskan para Wali. Di balik layar kain putih (kelir), dalang memainkan lakon yang mengingatkan manusia akan tugasnya sebagai khalifah di bumi yang harus menjaga keseimbangan antara adat dan syariat.
Ngunjung Adat di Kali Sapu adalah sebuah pengingat abadi: bahwa untuk melangkah jauh ke masa depan, seseorang harus sesekali menoleh ke belakang, menghormati tanah yang dipijak, dan mendoakan tangan-tangan yang telah membuka jalan kehidupan bagi mereka. (Riant Subekti)

Tinggalkan Balasan